Malaikat Tanpa Sayap
“Pilihan” satu kata yang terlihat simple tapi sangat
berpengaruh pada hidup. Itu yang kita temukan difilm ini. “Malaikat Tanpa Sayap” adalah sebuah film drama yang menghadirkan
momen-momen menyentuh dikeseluruhan cerita. Pada nyatanya, jalan cerita tidak
begitu bagus atau istimewa lebih bertuju “biasa”.
Akan tetapi dengan dialog dan setiap kalimat yang dibuat begitu puitis mampu
menolong jalan cerita ini, ditambah dengan pertolongan dari Rako Prijanto, “Malaikat Tanpa Sayap” dengan mudah
menarik perhatian para penonton dan jatuh hati, oh ditambah lagi mungkin rela
para penonton menjatuhkan air mata mereka karena film ini.
“Pilihan yang akan membawa kita pada
hidup” itulah yang dialami Vino
(Adipati Dolken), seorang remaja yang tidak begitu dekat dengan keluarga,
apalagi setelah ayahnya Amir mengalami kebangkrutan, rumah yang disita dan
mengharuskan pindah dan tinggal dikontrakan. Lalu Istri Amir, Mirna (Kinaryosih)
meninggalkan dirinya dan kedua anaknya, Vino dan Wina (Geccha Qheagaveta). Keluarga
yang berlatar belakang buruk, membuat Vino jauh dari dunia sosial dan menjadi
skeptis.
Vino
harus memutar otak bagaimana menghidupi keluarganya, membayar uang sekolah dan
membayar kontrakan. Namun beban Vino bertambah saat adiknya terkena penyakit
yang mengancam jiwa. Ayah mereka sudah tak bisa diharapkan seakan ingin melepas
saja nyawa anaknya yang terancam. Hanya diam tanpa melakukan usaha, pasrah
terhadap nasib yang ada dan membiarkan nasib itu menggrogoti hidupnya. Sesekali
menjadi supir taksi. Hadirlah seseorang yang menawarkan bantuan, (Agus
Kuncoro). Tapi tidak dengan cara cuma cuma, Vino harus memberikan salah satu
organ tubuhnya untuk ditukar dengan sekantong coklat berisi uang.
Masih
di rumah sakit, Vino bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda). Mura yang lahir dan
tumbuh mngetahui bahwa dirinya tak sehat dan lagi lagi nyawa sebagai taruhan
hidup. Mura jika ingin terus hidup harus melakukan transpalantasi jantung, yang
diera itu susah untuk menemukan orang yang rela mendonorkan jantung. Mura hidup
dalam kesepian, sekolah pun di rumah, tak mengenal bagaimana dunia hingga ia
bertemu dengan Vino. Vino mengajak Mura bermain dan melihat dunia luar, Mura
sangat bahagia saat hal itu tak lagi ada diangan angan dan nyata.
Secara
perlahan Mura juga mampu membuka mata Vino untuk memperhatikan orang orang yang
berada dilingkungan sekitar. Dan tidak lagi menjadi seorang yang skeptis.
Konflik
tercipta saat Ayah Mura mengetahui Mura pulang larut malam, tidak seperti
biasanya. Mura pun menjelaskan bagaimana dia ingin merasakan hal itu. Bukan
karena masalah waktu tapi Ayah Mura mengkhawatirkan keadaan anaknya.
Vino
yang menjual jantungnya demi menghidupkan keluarganya, tidak mengetahui bahwa
pembeli jantung sebenarnya adalah Mura, kekasihnya sendiri.
Lagi
lagi Vino menghadapi hal yang sebenarnya tidak mau ia temui lagi, yaitu “kehilangan”. Pertama Vino sudah
kehilangan Ibu, lalu nyaris kehilangan Adik satu satunya dan kali ini Vino akan
kehilangan kekasihnya jika tidak segera ia mendonorkan jantung untuk
menyelamatkan nyawa Mura.
Selain
itu Vino dikejar oleh calo yang harus segera melaksanakan perjanjian yang sudah
ditanda tangani untuk menjual jantung. Banyak sudah hal sulit yang dialami Vino.
Coba
tarik diri anda dari keadaan film yang membuat anda hayut dan lihat, film “Malaikat tanpa sayap” memiliki cerita
romansa, jelas akan dianggap sebagai salah satu film yang mengikuti tren
penceritaan bahwasanya film ini berlatar belakang kematian, salah satu dari 25
keadaan drama yaang paling menyentuh. Dan hal tersebut tak dapat disanggah.
Terlihat
dari si Vino yang terlilit miskin dan ingin mati, Mura yang menunggu seseorang
pendonor jantung untuk transpalantasinya, walaupun kekayaan memihak dirinya.
Tidak
dapat dipungkuri secara perlahan “Malaikat
Tanpa Sayap” memperlihatkan “jangan sepelekan orang sekitar”, “hargai
kehidupan” dan “sayangi orang yang mencintai kita selagi mereka ada”. Kalimat
kalimat seperti itulah yang akan terucap setalah kita menonton film ini. Tidak
hanya film ini, banyak film yang berhasil para penonton mengucap. Disinilah
“Malaikat Tanpa Sayap” menjuarai dan memiliki hal beda, sekelas dengan cerita
yang sedang diproduksi lainnya.
Namun
sayang untuk beberapa bagian terlihat, “Malaikat
Tanpa Sayap” ingin menghadirkan beberapa karakter didalam jalan ceritanya.
Akhirnya, karakter itu terbuang begitu saja tanpa mampu mengangkat cerita lebih
baik dan dibiarkan menggantung begitu saja tanpa kejelasan.
Dan
nampaknya sang penulis, Anggoro Saronto kehabisan akal atau bingung untuk
ending film “Malaikat Tanpa Sayap”
mencoba menghadirkan twist tetapi
justru berantakan, membuat sebagian orang mengkerutkan kening. Twist nya adalah membawa penonton melihat bahwa yang
meninggal itu Vino, tapi ternyata Ayah Vino, Amir. Twist yang sangat sederhana, terlebih dengan scene yang
memperlihatkan ternyata Amir yang menjadi malaikat. Sosok yang selama film
dianggap lemah, tak berdaya, tidak bisa melakukan apapun. Seharusnya membiarkan
saja penonton berkekspetasi dengan Vino yang meninggal.
Untung
saja tertolong dengan scene yang memperlihatkan kehidupan baru Vino, Maudy dan
Adiknya sehingga sedikit mengendorkan kerut kening penonton.
Oh
ya, jika dilihat lagi film ini justru sudah tertebak bagian ending ceritanya
bagaimana, dengan hadirnya Amir yang bercahaya dan Vino diawal film. Tinggal
bagaimana isi cerita film tersebut dihidangkan plot, karakter serta konflik
yang ada.
Yang
kita dapat difilm ini hanyalah pesan moral saja, tentang kehidupan, bagaimana
menghargai hidup dan berbagai hal yang menyakut film berlatar kematian jika
seksama memperhatikan dialog-dialog yang hadir.
Untuk
cerita? Terbilang standar banyak dijumpai cerita seperti ini didunia. Hanya saja
bagaimana mengolah ulang kembali dengan membalutkan kalimat mutiara akan
terkesan lebih segar dan para pemain yang membawa dan tentunya cinematografi
dibuat indah.
Oh
dan satu lagi sepertinya waktu itu sedang gencarnya berita penjualan organ
tubuh demi sesuatu, mungkin dari itu sang penulis mendapat ide. Merubah nuansa seram
itu menjadi cerita yang menyentuh.




Komentar
Posting Komentar