Langsung ke konten utama

Komedi yang Ringan Cinta Brontosaurus



Cinta Brontosaurus





Raditya Dika seorang novelis yang buku bukunya cukup terkenal bahkan dikategorikan sebagai best seller. Kini Raditya Dika memberanikan diri mencoba hal baru, yaitu menulis skenario filmnya sendiri, Cinta Brontosaurus. Ini adalah buku kedua Raditya Dika, sebelumnya buku Kambing Jantan sempat difilmkan juga yang hanya terlibat sebagai pemeran saja tidak dalam penulisan skenario.

Dalam Cinta Brontosaurus, mengisahkan alur cinta Raditya Dika selama ini yang mengalami kegagalan cinta dan menganggap cinta kadaluarsa, bahkan dapat membayangkan bagaimana putus dengan wanita yang ada. Raditya Dika memutuskan untuk menyudahi pencarian cintanya sampai menemukan perempuan yang beda.

Pada suatu tempat makan, terlihat setting makanan Jepang. Raditya Dika bertemu dengan Jessica (Eriska Rein) yang dianggapnya berbeda.

Disini terlihat perkenalan demi perkenalan karakter yang akan terlibat dalam film, berbagai konflik dan segala solusinya.

Antara Raditya Dika dengan Kosasih (Soleh Solihun), sebagai agen buku sekaligus temannya. Konflik terjadi saat Radita Dika mengetahui buku Cinta Brontosaurus akan dijadikan film oleh Mr. Soe Lim (Ronny P. Tjandra) yang berjudul “Hantu Cinta Brontosaurus” yang sebelumnya diragukan oleh Radit dan Kosasih, namun karena penawaran harga yang tinggi membuat Kosasih menerima tanpa sepengatahuan Radit.
Raditya Dika dengan Jessica, perjumpaan yang tanpa sengaja dan persiapan membuat mereka menjalani hubungan. Sampai pada keadaan Radit tidak sengaja mengatakan “ga akan pernah nikah mungkin” yang terdengar oleh Jessica saat acara pernikahan Kosasih dengan Wanda (Tyas Mirasih) membuat perubahan sikap besar Jessica dan berujung putus.



Memang sih beberapa yang dikatakan Raditya Dika yang adanya Imajinasi liar dan terdapat cerita cerita nyata dan fiktif cinta saat dia putus, tapi gw rasa bagian fiktifnya saat bertemu Jessica dan hubunganya.hehe..
Untuk komposisi komedi terbilang cukup, sesuai dosis. Kadang ada beberapa scene yang seharusnya dapat tertawa terbahak bahak tetapi jadi sedikit kurang pas, seperti dialog

(sedang telepon) Kosasih “Love you”

Raditya Dika “Love you too, Kos”

Itu kamera bergerak tracking/crabing kekiri (memberitahu bahwa Kosasih sedang telepon) pada saat Radit belum bicara “love you too”, seharusnya itu tidak diberitahu. Kasih taulah Kosasih tu sedang telepon saat Radit sudah mengucapkan “Love you too, Kos”.



Saat scene di rumah makan Jepang, ada keadaan Jessica sedang mengangkat lengan menunjukkan otot dan Radit berkata “taku jadian sama mereka”. itu seharusnya dapat membuat penonton tertawa tapi nyata tidak, terasa terbuang sia sia dialog komedi itu. Karena adanya perpindahan scene Radit membawa makanan ke rumah untuk nyokapnya.

Ada scene yang menurut gw fatal salahnya, scene Radit berada di atap pom bensin sendirian dan Nina (Pamela Bowie) datang dan memanggil dari bawah. Sesaat setelah itu mereka mengobrol dibawah. Salahnya adalah saat Nina memanggil Radit tidak tampak adanya mobil Radit dibawah, namun mereka mengobrol didepan mobil Radit (tepatnya duduk dikap mobil).



Cerita komedi tertolong dengan mimik mereka, Raditya Dika dan Soleh Solihun yang memang mengundang tawa. Radit yang mukanya komik banget dan Soleh Solihun sebagai Kosasih juga memberikan kekuatannya sendiri. Dirinya memberikan warna sendiri di film ini hingga akhirnya memberikan penambahan unsur komedi yang kental di film ini. Dan tentunya gadis manis dan cantik Eriska Rein.

Gw suka adanya pemakaian komedi natural dan tanpa sengaja, saat handuk Kosasih terlepas setelah mengantar Radit ke rumah Jessica.



Dari segi teknis, cukup mengagetkan juga Star Vision menggunakan sound Dolby 7.1 yang tak pernah digunakan untuk film-film Indonesia pada umumnya. Cinta Brontosaurus ini pun menggunakan Dolby meski tak seberapa terdengar karena genre drama komedi seperti ini tak memerlukan tata sound seperti ini. Hanya saja berbagai soundtrack serta sound effect yang mungkin membuat penggunaan Dolby 7.1 ini berhasil. Serta penggunaan aspect ratio 2:35:1 yang menarik. Meski sepertinya penggunaan kamera yang kurang bagus terutama di setting kurang bercahaya hingga akhirnya pixel gambar di film ini seperti sedikit pecah dan tak mumpuni untuk menggunakan aspect ratio 2:35:1 ini. Lagi-lagi Cesa David Lukmansyah menggunakan Editing yang cemerlang hingga akhirnya esensi film ini masih bisa bertambah diluar aspek cerita yang ditarik ulur.

dan satu lagi, terpadat quotes quotes yang menjadi ciri khas dari Raditya Dika diakhir film, sama seperti serial Malam Minggu Miko pada akhir episode. yang membantu para penonton untuk memberikan pesan yang terkandung dalam film.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksperimental Cinta

Cinta Dalam Kardus Cinta Dalam Kardus, merupakan film ketiga dari Raditya Dika. Sebelumnya Kambing Jantan (2009), dan dalam satu tahun ini Raditya Dika menghasilkan dua film sekaligus dengan waktu yang saling berdekatan, Cinta Brontosaurus (2013) dan Cinta Dalam kardus (2013). Lahir dari seorang blogger, novelis, dan kemudian scriptwriter bahkan sempat mencicipi bangku director diserial Malam Minggu Miko. Dua film pertama mengangkat langsung dari novel miliknya dan lagi lagi masih menceritakan tentang cinta. Dimana plot yang ada mudah ditebak, hanya bagaimana membuat “cinta” yang basi itu tidak terlihat basi,  seperti menghadirkan kalimat puitis didalamnya. Cinta Dalam Kardus, mengisahkan tentang Miko (Raditya Dika), orang yang percaya bahwa cinta itu menuntut dan tidak pernah bisa menerima seseorang apa adanya atau bisa disebut “Berubah Tidak baik (BTB)”. I love you just the way you are itu justru tanda buat berpisah. Dan persis itulah yang ia rasakan sa...

Belenggu, "Pintar dan keluar atau Diam dan tersesat?"

Belenggu, “Antara dunia nyata dan imajinasi tak ada batasan” Kisah pembunuhan berantai di sebuah kota kecil membuat penduduknya dicekam ketakutan. Mereka saling mencurigai satu sama lain. Perempuan takut untuk keluar malam sendirian. Di setiap sudut kota pembunuhan itu dibicarakan.   Elang ( Abimana Aryasatya ) tinggal sendirian di sebuah rumah susun. Dia bekerja sebagai pelayan bar. Di sela tidurnya, Elang selalu gelisah karena mimpi buruk. Dalam mimpi itu Elang dihantui gambaran buruk tentang pembunuhan aneh dimana pembunuhnya bertopeng Kelinci. Elang merasa merasa sosok bertopeng Kelinci itulah kunci dari segalanya pembuhuhan berantai.   Djenar ( Laudya Cintya Bella ), tetangga di sebelah rumah susun Elang selalu tampak tertekan karena masalah rumah tangganya dengan sang suami ( Verdi Solaiman ). Buah hati mereka selalu bermain sendirian. Elanglah yang menemaninya bermain. Djenar dan anaknya tak boleh keluar dari rumah susun karena karena takut dibunuh ol...

Ojol dan keresahan mereka

Pagi hari seperti Jakarta sedang ramai dari biasanya ? biasanya memang sudah ramai apalagi hari Jumat ya haha. Entah apa yang membuat Jakarta ramai dihari Senin dan Jumat. Hari Jumat kali ini beda, Jakarta macet karena ada para driver ojol yang melakukan demo ke gedung DPR. karena apa sih mereka melakukan demo ? Yes karena berita itu. Disana tertulis anggota komisi V tidak setuju motor dijadikan angkutan umum ? agak aneh ya tidak disetujui jadi angkutan umum karena angka kcelakaan terbanyak terjadi pada motor. Okeh coba kita anggap aturan itu disahkan, orang kemana mana harus menggunakan bis, kereta atau mobil untuk transportasi mereka kerja ? susah bukan? terlebih jalanan macet. motor adalah alat transportasi efektif untuk merobos macet dan menghemat waktu. Bagaimana nasib para ojol yang mengandalkan ojol sebagai pekerjaan utama mereka ? sungguh kasihan dan keji jika terjadi. Lalu apakah semua alat transporatasi sudah terintergrasi, nyaman dan aman bagi penumpangnya ? Ba...